My Beloved Strange Angel Part 12: Two Face
Viny masih setengah sadar ditempat tidur. Dia membalikkan badan ke arah kiri. Dan dia pun tersadar kalau kasur disebelah kiri itu kosong. Dia meraba-raba tempat tidur dan benar saja. Kasur itu kosong, padahal biasanya Yupi tidur disebelah Viny. Dia pun bangun dan mengucek-ucek matanya.
Viny
terduduk lalu ia melihat dimeja kecil dekat kasur sudah ada dua roti beroleskan
selai nutella kesukaan nya. Dan disana juga sudah tersedia segelas susu vanilla
dingin. Dan juga ada sepucuk surat yang
di amplopnya betuliskan “BUAT KAK VINY”
Viny pun membaca surat itu. Disana ditulis “Selamat pagi kak Viny! Huhh kak Viny susah
dibangunin ih. Jadi kita gak bisa sarapan bareng deh. Oh ya, Ka Viny tau gak
kalo kemarin kak Viny pingsan di pangkuan aku pas kita lagi nonton film horror.
Ah kak Viny katanya berani nonton tapi kok malah pingsan haha xD Btw cegukan
aku udah hilang loh gara-gara liat kak Viny pingsan. Aku berangkat dulu ya.
Sarapan buat kak Viny udah aku siapin.Kalo kurang, kak Viny bikin sendiri aja
ya :p Your One and Only, Yupi.”
Viny tersenyum setelah membaca surat dari Yupi itu. Dan
kini ia pun memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Yupi lalu ia segera mandi
dan berangkat menuju Supermarket di dekat rumahnya.
“Udah siang banget ternyata. Huh gara-gara kemarin nih nonton
film horror pake matiin lampu segala lagi. Gak apa-apa deh. Yang penting Yupi
cegukannya udah hilang.”
***
Viny pun
berbelanja bulanan sendirian. Supermarket dekat rumah Viny itu ukurannya besar
dan lengkap. Siang ini keadaan supermarket tidak terlalu ramai. Keadaan yang
tidak terlalu ramai itu justru membuat Viny nyaman. Ia tidak suka jika
supermarket sedang ramai.
Saat
Viny tengah mengambil selai nutella dan dia melihat didepannya ada seorang
gadis dan seorang cowok. Viny terus mengamati gadis itu dengan seksama. Ia
merasa kenal dengan gadis itu.
“Kok
orang itu mirip Yupi ya? Bajunya juga kayak yang aku beliin di distro. Tapi kok
dia lagi sama cowok sih? Dia bilang lagi ada tugas dari Bu Shania.”gumam Viny
lalu ia hendak menyusul gadis yang disangka Yupi itu dengan seorang cowok
disampingnya sebelum ia jauh dari pandangan Viny.
Saat
Viny hendak mengejar atau menyusul gadis yang mirip Yupi itu. Langkahnya
terhenti akibat ada gadis yang menghalangi jalannya. Gadis itu tidak lain
adalah Nadila. Gadis yang baru dikenal Viny dan dekat dengannya akhir-akhir
ini.
“Loh,
kak Viny juga lagi belanja disini ya? Kok kita jodoh gini ya, Kak?”ucap Nadila
pada Viny. Namun Viny tidak memperhatikan Nadila sama sekali. Dia malah sibuk
memperhatikan gadis yang mirip Yupi itu.
“Kak
Viny… Jawab dong! Jangan kacangin aku gini”rengek Nadiila sembali menarik jaket
pink milik Viny.
“Eh
kamu, Nad. Ada apa?”
“Tuh
kan. Kak Viny pasti gak merhatiin aku nih. Kak Viny lagi liatin apa sih?”
“Lagi
liatin.. Loh kok hilang?!”
Saat
Viny memperhatikan Nadila dan menjawab pertanyaan dari Nadila. Seorang cowok
dan gadis yang mirip Yupi itu tiba-tiba hilang. Entah belok kemana mereka.
“Apa
yang hilang, Kak?”
“Oh
engga.. maksud aku. Trolli punyaku hilang.”
“Oh..
gitu kirain barang berharga kak Viny yang hilang, kan sekarang lagi banyak
pencurian gitu.”
“Eh,
Nad. Kamu lagi belanja apa disini?”
“Paling
cuma belanja beberapa barang yang persediaannya udah habis aja, Kak.”
“Kamu
udah selesai belanja ya, Nad?”
“Iyanih,
Kak. Cuma tinggal bayar dikasir aja. Kayaknya shopping listnya kak Viny masih
belum terselesaikan ya?”
“Iyanih.
Sekarang mau ngelanjut.”
“Mau aku
bantuin gak, Kak?”
“Boleh,
asal gak ngerepotin kamu aja, Nad”
“Ah
ngerepotin apanya, cuma begini doang mah kecil, haha”
Tak
butuh waktu lama bagi Viny untuk berbelanja bulanan karena dia sudah dibantu
oleh Nadila.
“Nad,
makasih ya kamu udah bantuin aku. Gimana kalo kita ke kedai Moon Light aja.”
“Maksudnya
itu kedai yang jual terang bulan alias martabak manis bukan?”
“Iyaps
betul banget. Aku traktir deh.”
“Wah
boleh tuh. Ayo, Kak!”
***
“Kita
duduk disana aja yuk, Kak.”
“Boleh.
Ayo.”
“Kak
Viny pesen apa?”
“Samain
ajadeh kayak kamu. Aku gak banyak makan kok.”
“Iya
mending kita beli satu aja. Takutnya gak habis.”
“Oh
oke.”
“Kak
Viny aku ke kasirnya ajadeh. Kayaknya disini lagi banyak pesanan deh, jadi
mereka gak sempet ke meja kita.”
“Oke,
Nad. Minumannya terserah kamu juga.”
Saat
Nadila pergi untuk memesan makanan, dia kembali melihat gadis yang mirip Yupi
itu walaupun gadis yang mirip Yupi itu membelakanginya.
“Ranz
Kyle?! Pasti itu Yupi. Gak salah lagi.”gumam Viny sembari terus memperhatikan
gerak-gerik mereka.
Viny pun
terkejut melihat Ranz Kyle mencium Yupi. Matanya terbelalak melihat peristiwa
tersebut. Ia tak percaya kalau Yupi bahkan tidak melawan atau sama sekali menolak
ciuman itu. Padahal kemarin Viny sudah memberikan nasehat kalau Yupi tidak
boleh pacaran dan ciuman.
Nasehat
itu bukan tidak beralasan. Viny tidak ingin di usia Yupi yang masih sangat muda
mengalami rasa sakit hati jika nanti ia akan putus dengan pacarnya.
Rasanya
Viny ingin ke meja itu lalu menghentikan hal itu. Namun kedai Moon Light sedang
ramai. Tidak baik jika ia mempermalukan mereka berdua di depan umum seperti
ini. Alhasil ia hanya bisa diam dan memperhatikan mereka dari kejauhan.
Viny
merasa seperti sedang melihat drama korea romatis yang sering ditontonnya
bersama Yupi. Namun bedanya kini dia
melihat drama korea itu secara langsung. Viny bahkan melihat mereka foto-foto
bersama.
Saat
Yupi dan Ranz Kyle hendak meninggalkan meja ditempat mereka duduk. Yupi sempat
hampir terjatuh tetapi ia dirangkul oleh Ranz Kyle. Kakinya pun terkilir karena
ia tidak hati-hati saat berjalan. Alhasil Yupi pun digendong Ranz keluar dari
kedai Moon Light.
Disisi
lain, ternyata sedari dari selain Viny, ada juga yang memperhatikan Ranz Kyle
dan Yupi. Dia adalah Nabilah. Teman dekat Vanka. Dia dengan cepat memotret
setiap pergerakan Yupi dan Ranz Kyle lalu segera mengirimkannya ke Vanka lewat
ponsel pintarnya.
“Nah,
ini dia martabak manisnya kak Viny. Maaf ya aku lama. Soalnya tadi aku sempet
bantuin mereka masak juga. Walaupun cuma masak ini aja sih.”
“Wah
kamu ikut masak ini ya?”
“Iya,
kak. Coba dulu deh.”
Saat
Viny mencoba martabak manis buatan Nadila. Rasanya terlalu manis dan terasa
kurang enak.
“Mungkin jika Yupi yang membuat
martabak manis ini, pasti rasanya pas. Setiap Yupi memasak apapun, pasti
masakannya selalu enak.”
Viny pun hanya menahan ekspresi agar Nadila
tidak terlalu merasa sedih atau apapun.
“Rasanya
kok terlalu manis ya, Kak? Tadi aku gak sengaja numpahin susu ke adonannya
hehe. Aku kira rasanya bakal ga terlalu manis eh ternyata perkiraan aku salah.”
“Gak
apa-apa kok.”
Viny
hanya bisa memakan sedikit potongan martabak manis saja. Selain karena tidak
enak karena terlalu manis, dia juga kehilangan moodnya karena Yupi telah
melanggar ucapannya. Rasanya Viny ingin cepat-cepat pulang dan mengomeli Yupi.
***
“Yup.
Besok aku aja yang bawa semua barang-barangnya. Terus inget datengnya lebih
awal ya dari biasanya. Ntar aku telfon deh.”
“Oke, Ranz.
Hati-hati ya naik sepedanya.”
“Sip.”
Ranz
Kyle pun akhirnya pergi dan saat Yupi akan memasuki rumah. Ponsel nya berbunyi,
bunyinya bersuara menandakan ada seseorang yang menelponnya. Ia lalu mengangkat
telepon itu.
“Halo.
Iya kak Wel. Ini aku, Yupi. Ada apa?”
“Yup,
bisa ngak kamu nginep dirumah aku selama 3 hari aja. soalnya mama aku lagi ke
Surabaya nih. Nanti aku bilangin ke Viny juga. Kalo dia nanti bilang mau ikut
boleh kok”
“Oh
gitu. Yaudah aku siapin barang-barang aku selama 3 hari dirumah kak Wel ya”
“Oke,
Yup.”
Yupi pun menelpon Viny agar ia tidak
khawatir nanti jika Yupi belum ada dirumah karena ia menginap di rumah Noella.
Saat
Yupi menelepon Viny. Ternyata Viny masih berada di kedai Moon Light bersama
Nadila. Saat itu Viny sedang ke toilet dan ponselnya berada di meja.
“Adik
Angkat Aneh? Jadi ini adik angkatnya kak Viny kali ya? Aku angkat ajadeh”ucap
Nadila lalu mengangkat telepon itu.
“Halo,
Ini siapa ya?”
“Ini
Yupi. Ini kak Viny bukan?”
Nadila
pun ingat kalo dia punya teman sekelas baru bernama Yupi.
“Yupi,
Cindy Yuvia?”
“Iya,
Kak Vinynya ada gak?”
“Kamu
siapanya kak Viny?”
“Aku
adiknya kak Viny”
“Adik
kandung atau adik angkat?”
“Adik
angkat. Hey kamu belum jawab pertanyaan aku, kak Viny mana? Dan kamu siapa?”
“Kak
Viny lagi sibuk. Lebih baik kamu matikan telepon saja.”
“Yaudah
tolong bilangin sama kak Viny kalau aku nginep dirumah kak Noella.”
Nadila
adalah seorang gadis yang sangat cemburuan. Dia pun tidak suka jika ada orang
yang ia sayangi lebih dekat dengan orang lain. Karena sifatnya itulah Nadila
kurang bisa mendapatkan teman. Sifat over posesifnya itu yang sering membuat
orang yang ingin dekat dengannya justru merasa tidak nyaman.
Nadila
melihat wallpaper Viny yang berisi foto Viny dan Yupi anak baru dikelasnya dan
dia juga melihat galeri foto Viny yang lumayan banyak berisi foto Viny bersama
Yupi. Bahkan Nadila melihat pesan sms Viny bersama Yupi.
Nadila merasa kesal karena Viny lebih
perhatian pada Yupi dibanding dirinya.
“Yupi?
Kalo kamu adik kandung aku gak bakal kesel. Tapi kalo adik angkat? Aku juga
bisa jadi adik angkat kak Viny dan bikin kak Viny lebih perhatian sama aku
dibanding sama kamu, liat aja.”ucapnya dalam hati.
Nadila lalu menghapus pemberitahuan
kalau Yupi tadi menelpon Viny dan menghapus pesan sms Yupi yang baru saja
terkirim ke hape Viny.
Sementara
itu, Yupi memberi pesan pada Noella kalau ia sudah menelpon Viny namun yang
menjawab telepon itu bukan Viny melainkan orang lain tapi dia sudah memberi
pesan pada orang yang menjawab telpon itu untuk menyampaikan pesannya pada Viny
selain itu dia juga mengirim pesan sms pada Viny.
Noella pun menjawab, mungkin
Viny akan membaca pesan sms itu nanti dan Noella juga nanti akan menelpon Viny.
Jadi Noella hanya menyuruh Yupi untuk ke rumahnya saja dan tidak mempedulikan
hal yang terjadi nanti. Karena Noella berpikir Viny pasti akan mengerti.
***
Viny pun sampai di rumahnya bersama
Nadila. Pikirannya kini hanya tertuju pada Yupi. Dia berpikir, entah dimana
Yupi berada saat ini. Ataukah ia masih bersama dengan kekasihnya itu. Baru kali
ini Yupi tidak memberitahunya ia pergi kemana.
Padahal jika ia pergi entah
kemana pasti Yupi akan memberitahunya terlebih dahulu. Banyak hal negatif yang
Viny pikirkan saat ini.
“Adik kecil itu selalu saja
bikin aku khawatir!”ucap Viny samar-samar. Entah kenapa kata-kata itu keluar
begitu saja dari mulut Viny.
“Adik kecil siapa,
Kak?”tanya Nadila yang mendengar ucapan Viny tadi.
Viny baru tersadar kalo dia
tidak sendirian di rumah ini. Dia masih bersama Nadila. Viny akhirnya teringat
akan sarannya pada Nadila. Dia pun berniat menceritakan masalahnya pada Nadila.
“Yupi. Kamu tau dia kan?”
“Tau, kak. Dia kan remaja
yang lagi populer juga sama kayak kakak. Dia sekelas sama aku.”
“Oh baguslah. Entah dimana
dia berada saat ini, Nad. Dia harusnya ngasi tau aku terlebih dahulu. Biasanya
dia pasti sms atau telpon aku.”
Nadila kembali teringat jika
ia sudah menghapus pesan sms Yupi dan pemberitahuan kalau Yupi sudah menelpon
Viny namun yang mengangkat telpon itu ada dirinya bukan Viny.
“Wah parah tuh, Kak. Gak
baik kan kalo bikin orang khawatir. Eh emang Yupi itu siapanya kakak?”
“Sebenarnya Yupi bukan adik
kandung aku. Dulu ada peristiwa yang bikin aku ketemu sama dia. Dan karena
sesuatu hal, aku mutusin buat menganggap dia seperti adik aku sendiri.”
“Kakak baik ya? Padahal Yupi
bukan siapa-siapa kakak, tapi kakak tetep aja ngerawat Yupi di keluarga kakak.”
“Kalau kakak nganggep Yupi
udah kayak keluarga sendiri seharusnya Yupi juga nganggep kakak kayak
keluarganya sendiri juga. Dia harus ngasi tau keberadaannya sama keluarganya.
Aku aja udah ngasi tau keluarga aku tentang keadaan aku sama kalau aku sekarang
lagi dirumah kakak.”
“Ah sudahlah. Kalau memang
seharusnya begitu tapi dia sendiri tidak seperti itu, ya mau bagaimana lagi?
Aku taruh barang-barang ini dikulkas dulu ya! Kamu diem di kamar aku aja, tapi
jangan mainin barang-barang dikamar aku loh.”
“Ah kak Viny mah. Emang aku
anak kecil apa? Tenang aja kali.”
“Ya siapa tau kalo kamu jail
terus mindahin brang-barang aku. Oh ya langsung buka aja, pintunya gak
dikunci.”ucap Viny lalu mengambil barang belanjaan dan pergi ke dapur.
Nadila pun menaiki tangga
dan sampai didepan kamar Viny.
“Vinyupi Room?! E..w..h..
bagusan juga Vinad Room”ucap Nadila
kesal lalu memanyunkan bibirnya dan membuka kamar Viny.
Disana kamarnya tertata
rapi. Yang paling sering membersihkan dan merapikan kamar itu adalah Yupi.
Nadila duduk dipinggiran kasur dan melihat setiap sudut kamar Viny lalu ia
melihat kertas kuning berisi tulisan seperti memo. Ia lalu berdiri dan membaca
surat itu.
“Dari Yupi? Jadi dia nginep
dirumahnya ka Noella selama 3 hari? Oh.”ucap Nadila setelah membaca memo
tersebut. Bukannya memberitahu Viny, Nadila malah membuang memo itu ke tong
sampah.
“Kamu habis buang apaan ke
tong sampah, Nad?”ucap Viny yang curiga kalau Nadila membuang barang
berharganya.
“Ih ka Viny bikin aku kaget
aja. Ini loh aku habis buang struk belanja, abis gak penting sih.”
“Oh kirain kamu buang barang
berharga aku.”
“Iya aku emang buang barang
berharga kak Viny dari Yupi yaitu memo buat kak Viny.”ucapnya dalam hati.
“Ish kak Viny pikirannya kok jelek gitu sama
aku. Lihat muka aku deh. Muka polos gini masak berkelakuan jelek sih.”
“Iya. Aku percaya kok.”
Sementara itu di rumah
Noella. Yupi sedang sibuk merawat Noella yang ternyata sedang sakit.
“Kenapa gak bilang ditelpon,
kalo kak Wel lagi sakit? Kalau aku tau kan kan aku bisa lari ke sini dan bukan
jalan santai.”
“Ah jangan lebay gitu deh, Yup.
Kan masih ada pelayan aku disini.”
“Kak Wel udah ada ngasi tau
mama kak Wel kalo kak Wel lagi sakit?”
“Ribet deh kamu ngomongnya,
Yup. Bilang kak wel aja sampe ngulang 3x-.- Ya aku emang belum ada ngasi tau
mama soalnya aku gak mau gara-gara aku konsentrasi mama jadi buyar.”
“Kalo kayak gitu. Aku bakal
ngerawat kak wel dengan baik. Tenang aja^^”
Noella pun tersenyum.
“Makasih ya, Yup. Maka dari
itu aku nelpon kamu. Kamu orang salah satu orang yang paling aku percaya.”
“Wah makasi ya kak Wel udah
percaya sama aku. Semoga kepercayaan kak Wel
sama aku gak luntur ya.”
“Iya. Tenang aja. aku
percaya kamu selalu kok.”
“Permisi, Non. Sekarang udah
waktunya minum sirup obat maagnya.”
“Obat apaan sih itu?! Lebih baik aku minum
kapsul atau tablet deh daripada minum sirup. Mending buang aja. Aku kan gak
suka obat pake sirup-sirupan gitu.”
“Yaudah kak Wel istirahat
dulu. Pelayan ini gak bakalan maksain kakak buat minum sirup kok.”
Noella pun langsung tiduran
sembari menahan rasa sakit di perutnya. Sementara itu, Yupi keluar bersama
pelayan itu dan berunding.
“Non, Yup. Noella emang susah
disuruh minum sirup. Tapi mau bagaimana
lagi. Dokternya ngasi obat kayak gini. Obat ini harus diminum 1 jam sebelum dia
makan.”
“Bik, aku mau lihat sirupnya
boleh gak? Coba tuangin deh. Siapa tau aku dapet ide.”ucap Yupi lalu pelayan
itu menuangkan sirup itu.
“Warnanya putih kayak susu
vanilla ya, Non.”
“Nah itu! aku jadi punya
ide!”
“Idenya kayak gimana, Non.”
Yupi pun membisikkan
rencananya pada pelayan itu agar Noella mau untuk meminum obat maag itu.
***
“Hay kak Wel. Minum susu
dulu yuk! Ini eksperimen aku loh. Kak Wel cobain susu eksperimenku ya.”ucap
Yupi lalu menyuapi Noella sesendok susu.
“Kok kurang encer gitu ya?
Terus rasanya gak ada rasa susu sama sekali. yang ada malah rasa kayak
mint-mint gitu. Aduh perut aku kok jadi perih gini.”
“Nih coba minum lagi deh, Kak.
Itu sih sakit gara-gara kak Wel gak mau mam.”
“Loh kok sendokan yang kedua
baru terasa susunya?”
“Keren kan eksperimen aku.
Nah nanti aku setiap pagi, siang, sore bakal kasi susu ini.”
“Hah?!”
“Daripada minum sirup? Hayo
pilih yang mana?”
“Gak deh. Minum ini aja.”
“Nah gitu dong. Kak Wel
istirahat lagi gih. Sini aku pijetin.”
“Aku gak mau istirahat. Dari
tadi aku udah istirahat, Yup.”
“Gimana kalo kita nonton
film yang durasinya biasanya 1 jam ya.. lebih-lebih dikit lah.”ucap Yupi sambil
memberi kode pada pelayan dengan mengedipkan matanya.
“Nah ide bagus tuh. Nyalain
Smart TV aku ya, Yup. Kita nonton film yang genrenya horror comedy aja ya.”
“Oke. Eh kak wel. Aku mau
nganter bibik sekalian tutup pintu ya.”
“Iya, Yupi”
Yupi pun mengantar pelayan
itu keluar.
“Bik,
nanti tombol pemberitahuannya aku pencet ya kalo filmnya udah selesai.”
“Oke,
Non”
Setelah
menutup pintu Yupi lalu menyetel Smart TV dan dia teringat pada Viny yang
menyetelkan Smart TV yang sama seperti milik Noella. Dia melakukannya sama
persis seperti yang ia lihat saat Viny menyetel Smart TV itu.
Mereka
pun menonton film thailand yang sudah bersubtittle Indonesia itu. Saat film itu
akan selesai. Yupi lalu memencet tombol remot yang diberikan oleh pelayan tadi.
“Kak Wel
makan dulu ya? Kak Wel mau makan sendiri tapi makanannya boleh gak abis atau
aku suapin tapi makanannya harus abis.”
“Duh.
Aku itu lagi lemes. Masa makan sendiri sih?! Suapin dong.”
Yupi pun
tersenyum. Ia lalu menyuapi Noella. Dan Baru 5 sendok saja, Noella bilang ia
sudah sangat kenyang. Tapi seperti apa yang diucapkan Yupi tadi. Noella pun
dipaksa Yupi untuk memakan makanan itu sampai habis. Dengan berbagai usaha,
akhirnya makanan itu bisa dihabiskan Noella.
“Duh.
Perut aku kekenyangan banget.”
“Minum
obat dulu kak Wel.”
“Aduh
perut aku lagi kekeyangan gini kamu suruh aku minum obat-_-“
“Kalau
kak Wel gak mau minum obat. Aku nanti bakal balik lagi ke rumah kak Viny oh.
Kasian dia di rumah sendiri.”
“Eh
jangan! Iya.. Iya aku minum obatnya.”
Yupi
tersenyum.
“Permisi,
mama, Non. Telpon nih.”
Noella
pun memberi isyarat pada Yupi agar dia yang mengangkat telponnya. Karena ia
merasa sangat kekenyangan dan ingin istirahat.
“Halo?”
“Halo.
Ini Yupi.”
“Oh..
Yupi. Gimana keadaan Noella? Apa dia baik-baik aja?”
“Dia
lagi sakit tante.”
Setelah
mendengar itu. Noella bangun dan mengucapkan “Kenapa kamu bilang, Yup!”
mengeluarkan suara sedikit pun. Tapi Yupi hanya menjawab dengan isyarat jari
telunjuk didepan bibir yang berarti diam.
“Tapi
tante gak perlu khawatir. Yupi pasti bakal ngerawat kak Wel dengan baik sampai
dia sembuh.”
“Yasudah,
tolong kabar-kabarin tante ya. Makasi sudah mau jujur. Eh dia mau minum obatnya
gak?”
“Mau
dong tante.”
“Hebat
juga kamu, Yup. Biasanya Noella susah minum obat. Yasudah nanti tante telpon
lagi ya?”
“Iya,
tante.”
Saat sedang sakit Noella
sering tidak mempedulikan ponselnya, sama seperti saat ini. Dia terlalu sibuk
dengan rasa sakitnya. Ponselnya kini sedang kehabisan baterai sama seperti hape
Yupi. Dan membuat dia pun lupa untuk menelpon Viny.
***
“Yupi dimana?”
Pertanyaan
sederhana yang terus bergelayut dipikiran Viny. Baru kali ini Yupi tidak
memberitahu keadaan dan keberadaannya saat ini.
“Apa
ingatan Yupi sudah kembali? Jangan-jangan dia sudah ingat dimana alamat
rumahnya lagi. Atau ia diculik lagi, ah tidak mungkin.”
“Padahal
aku baru saja ingin memarahinya. Tapi dianya sendiri malah tidak ada.”lanjut
Viny.
“Lebih
baik aku tidur saja. Ini sudah terlalu larut, besok aku akan mencari
keberadaannya di sekolah saja.”pikir
Viny lalu mematikan lampu kamarnya dan
mencoba untuk tidur.
Buat yang belum baca part sebelumnya:



Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuspadahal ceritanya bagus banget, tapi sayang kenapa harus dibumbuin hal mesum segala, cerita yg awalnya sangat indah tentang persahabatan, kasih sayang & ketulusan yg menyentuh hati jadi menjijikkan & bikin sakit mata gara-gara tercampur hal mesum. tapi harus ku akui cerita buatanmu sangat bagus, mungkin suatu saat kamu bisa jadi penulis novel terkenal lho :)
BalasHapusSebenernya cerita ini gak ada bumbu hal mesum, adegan itu juga bukan adegan yang sebnernya, penjelasan dari adegan yupi nanti bakal ada di part selanjutnya. Terima kasih komentarnya, baca part selanjutnya nanti yaaa☺
Hapus