My Beloved Strange Angel Part 10: My New Class
Hari ini, pertama kalinya Yupi kembali bersekolah setelah ia bebas dari sakit yang dideritanya. Viny pun juga sekarang sedang berjalan berdampingan dengan Yupi menuju ke sekolah.
“Eh,
Yup. Lo dipanggil sama Bu Shania noh”ucap salah satu siswa yang memberhentikan
langkah Viny dan Yupi.
“Bu
Shania itu yang mana ya?”
“Oh yang
itu. Terus aku disuruh ke sana sekarang gitu?”
“Yaiyalah
astaga..”
“Sabar
ya.. Dia masih kena efek amnesia jadi ya.. maklumin aja kalo loadingnya agak
lama”ucap Viny sembari memegang bahu salah satu siswa itu.
“Oh gitu ya, Vin. Yaudah
sana gih cepetan. Gue anterin ajadeh. Ntar nyasar lagi saking amnesianya-_-”ucap
siswa tadi lalu membuat Viny tertawa.
Siswa tadi dan Yupi lalu
pergi menghampiri bu Shania. Kini Viny sedang berjalan sendirian. Lalu dia
melihat seorang gadis yang menangis terisak-isak sendirian. Dia pun menghampiri
gadis itu.
Sifat Viny memang sudah
berubah, dia menjadi orang yang peka terhadap lingkungan disekitarnya tak
seperti dulu. Dulu ia orang yang sangat tidak peduli dengan lingkungan
disekitarnya. Namun kini sejak Yupi terus menasihatinya. Dia mulai berubah.
Viny pun memegang bahu gadis
itu.
“Kamu kenapa?”tanya Viny
pelan.
Gadis itu pun menyibakkan
rambutnya yang terurai indah. Lalu mendongak dan menoleh ke arah Viny. Dengan
mata yang masih sembab dan merah.
“Aku gak apa-apa”ucap gadis
itu lalu menghapus airmata yang sudah membasahi pipinya.
“Bohong. Oh ya kenalin nama
aku Viny. Nama kamu siapa? Kalo kamu ada masalah, mungkin kamu bisa cerita”
“Jadi kakak ini ka Viny?”
“Ya emang-_-“
“Ka Viny terkenal banget
dikelasku loh! Gak nyangka bisa ketemu sama ka Viny deh”
“Hah?”
“Oh. Salam kenal ya! Kalo
kamu lagi ada masalah, ada baiknya kamu menceritakan masalahmu ke orang lain.
Memang sih nangis itu bisa meluapkan perasaan yang tidak bisa kita ungkapkan
dengan kata-kata. Tapi untuk solusi?”
Gadis yang bernama Nadila
itu masih mendongak dan memerhatikan Viny dengan seksama. Dan dia bahkan tidak berkedip saat memperhatikan Viny.
“Hey.. nangis itu gak bisa
ngebuat kamu ngadapetin solusi untuk masalah kamu. Jadi lebih baik ceritain aja
masalah kamu sama teman kamu, jangan menyendiri kayak gini”ucap Viny sambil
memegang bahu Nadila sembari tersenyum.
“Aku bahkan gak punya temen
untuk berbagi cerita, Kak”ucapnya sesenggukan karena kesedihan yang masih belum
bisa hilang.
“Gimana kalo kamu cerita
sama aku? Mungkin aku bisa kasi solusi”
“Boleh. Jadi gini kak-”ucap
Nadila lalu Viny segera menutup mulut Nadila.
“Ceritanya jangan disini.
Gimana kalo disana aja? Kalo disini banyak orang lewat”
“Oh gitu. Yaudah ayo, Kak”
Sementara itu Yupi sudah
sampai dan berada dihadapan Bu Shania.
“Nih, Bu. Orang yang namanya
Yupi, eh. Hm.. Bu, ibu kayanya harus sabar ngadepin Yupi. Dia itu amnesia
nya udah akut. Kata kakaknya ya kita harus sabar dan maklumin sikap dia”bisik
siswa yang mengantar Yupi tadi ditelinga Bu Shania.
“Oh gitu. Bu Natalia juga
sudah mengatakan hal itu.”
“Bu. Kenapa saya
sampai dipanggil ke sini?”
“Jadi gini, Yup. Kamu ingat
kalo Bu Natalia pernah bilang kalo dia bakal masukin kamu ke kelas 10 setelah
semua urusan dan masalah itu sudah selesai?”
“Aku gak inget, Bu.”
“Astaga..”
“Sabar bu.. Inget dia masih
amnesia..”
“Oh iya. Benar juga. Yup.
Sekarang kamu masuk ke kelas 10 tepatnya dikelas ibu.”
“Masuk dikelas ibu?
Maksudnya apa ya, Bu?”
“Astaga..”
“Sabar bu..”ucap siswa yang
mengantar Yupi sambil mengelus pelan punggung Bu Shania.
“Maksudnya sekarang kamu itu
belajar dikelasnya ibu. Bukan dikelas Bu Natalia lagi, Ngerti?”
“Bu.. dia kayaknya belum
ngerti deh. Liat aja ekspresinya. Kayak masih buffer gitu. Loadingnya lama
banget tuh, Bu. Coba kasi pencerahan lagi deh. Biar dia lebih ngerti. Ayo, Bu.
Kasi sinyal, biar ga buffer lagi”
“Emang kamu pikir Yupi itu
video di youtube apa-_-“
“Yup. Maksudnya Bu Shania
itu. Kamu udah gak satu kelas lagi sama ka Viny. Sekarang kamu pindah kelas.
Kamu jadi adik kelasnya ka Viny, ngerti?”
“Adik kelas itu apa?”
Siswa yang mengantar Yupi
dan Bu Shania pun langsung reflex menepuk dahinya seperti sudah sangat lelah
menghadapi yupi yang sangat susah untuk mengerti.
“Ya intinya itu. kamu udah
gak satu kelas bareng ka Viny. Kamu gak bisa sebangku lagi sama ka Viny. Karena
kamu sekarang beda kelasnya sama Ka Viny!! Ngerti!!”ucap siswa yang dengan penuh emosi.
Yupi berpikir sesaat.
“Hm.. aku ngerti^^”
“Akhirnya, Bu. Dia ngerti
juga”ucap siswa yang mengantar yupi tadi sambil menengadahkan tangannya seperti
orang yang sedang bersyukur dan saking terbawa susananya Bu Shania sampai
memeluk siswa yang mengantar Yupi tadi.
Yupi hanya diam dan bingung
melihat apa yang dilihat dihadapannya.Dia pun mengalihkan pandangannya melihat keadaan disekitarnya lalu tidak sengaja melihat Viny yang sedang berjalan dengan seorang gadis yang tingginya hampir
sama dengannya.
Yupi kembali bingung, ia
sebelumnya tidak pernah melihat Viny bersama orang lain selain Naomi cs dan
dengan Yupi tentunya. Gadis itu jika dilihat tingginya tidak seperti Naomi,
Lidya, Noella dan dandanannya pun tidak mirip dengan Rona walaupun tinggi
mereka hampir sama.
“Ih kamu ini! Ngapain kamu
meluk guru kamu sendiri! Gak sopan!”
“Loh. Yang tadi meluk kan
ibu. Kok saya yang dimarahin?”
“Eh liat. Yupi kenapa
melamun kayak gitu?”
“Gak tau, Bu. Jangan-jangan
dia emang sering gini dirumahnya”
“Ah yang bener. Eh jangan
dikasi dia ngelamun lama-lama gitu. Entar kesambet jin iprit gimana? Eh maksud
itu setan bukan jin iprit”
“Yup..”ucap siswa yang
mengantar Yupi tadi sambil memegang bahu kanan Yupi.
Lamunan Yupi pun buyar.
“Eh iya.. Kenapa?”
“Ayo, Yup. Kita ke ruang
guru dulu.”
“Memangnya kita mau ngapain
disana, Bu?”
“Sudah jangan banyak tanya.
Sekarang kamu ikuti ibu ya”
“Iya, Bu”
“Buat kamu, Des. Terimakasih
ya atas bantuannya untuk ibu. Nilai kamu nanti akan ibu omongin sama wali kelas
kamu, kalau ada nilai kamu yang dibawah rata-rata biar dibantu.”
“Wah makasi banget, Bu!”ucap
siswa yang mengantar Yupi tadi sembari salim tangan dengan Bu Shania.
“Ya sudah, Bu. Saya ke kelas dulu ya”lanjut
siswa tadi.
Bu Shania pun berjalan
menuju ruang guru untuk membunyikan bel sekolah dan mengambil materi
pembelajaran untuk di kelas nanti.
Yupi mengikuti Bu Shania sampai
diruang guru.
“Yup, Kamu diam disini
sebentar ya!”ucap Bu Shania lalu memasuki ruang guru dan meninggalkan Yupi
sendirian didepan ruang guru.
Yupi masih terus saja memperhatikan Viny
bersama dengan seorang gadis yang dia sendiri tidak emngetahui siapa gadis yang bersama Viny itu. Walaupun Viny dan gadis itu membelakangi Yupi.
Yupi tetap bisa mengenali Viny.
“Ka Viny sama siapa ya?
Akrab banget kayaknya”gumam Yupi dan setelah itu bel pun berbunyi.
Viny pun segera berlalu dari
hadapan Yupi tanpa tahu kalau Yupi sedang memperhatikannya.
“Heii..”ucap seorang sembari memegang bahu
kiri Yupi dan mengagetkannya.
“Eh, Ibu Shania”
“Jangan melamun gitu, Yup.
Ntar kamu kesambet setan loh. Kan serem tuh. Kalau kesambet malaikat sih gak
apa-apa.”
“Hah.__.”
“Udah gak usah kaget gitu.
Ayo sekarang kita ke kelas kamu yang baru. Ikutin Ibu ya. Jangan kemana-mana matanya. Ntar kalo kamu nyasar gimana? Kan ribet tuh. Mana kamu
lagi amnesia gini lagi.”
“Iya, Bu”
***
Suasana kelas yang awalnya
ribut mendadak menjadi sunyi senyap saat Bu Shania pun masuk ke kelas bersama Yupi.
Dan ia pun juga mengenalkan Yupi pada murid-muridnya.
“Silahkan sekarang kamu yang
memperkenalkan diri kamu sendiri lebih jelasnya”
“Halo, Perkenalkan nama aku
Cindy Yuvia. Kalian bisa panggil aku Yupi”
Hampir seluruh siswa dikelas
Bu Shania pun tertawa mendengar mereka harus memanggil Yupi.
“Nama permen kok dijadiin
nama sendiri sih”celetuk salah satu siswa.
Yupi pun tak mengerti apa
yang mereka tertawakan, ia hanya membalasnya dengan senyuman manis miliknya.
“Oh pantes nama kamu Yupi.
Senyuman kamu emang manis, semanis permen Yupi sih :3”
Serentak semua siswa pun
menyoraki siswa yang menggoda Yupi.
“Sudah..sudah.. kenapa jadi
ribut begini-.- Ingat kalian itu harus bersikap baik sama Yupi krena dia yang
nanti akan mewakili kelas kita dalam olimpiade yang akan datang”
“Ah ibu mah.. mulai deh anak
tiri anak kandungnya. Hu.. Pilih kasih”
“Heh.. Vanka! Memangnya
kalau Yupi nanti gak betah dan gak ikut olimpiade, kamu mau ngegantiin dia?”
“Hmm.. Enggak sih, Buk.
Hehe.”
“Dasar kamu ini-_-“
Murid yang tadi berdebat
dengan Bu Shania yang bernama Vanka tadi pun disoraki teman-temannya. Dan dia
pun merasa kesal karena dipermalukan untuk pertama kalinya.
“Yup, silahkan kamu duduk
sama Sinka dibangku sebelah timur yang kosong itu”
Yupi pun menganggukan kepalanya
dan langsung menuju bangku yang terletak disebelah timur itu. Disana ada
seorang gadis manis yang duduk dan kini memandang Yupi dengan intens.
Yupi duduk dan memberikan
senyum manisnya pada gadis itu. Gadis itu bukannya membalas senyuman Yupi dia
malah mengalihkan pandangannya pada papan tulis.
“Eh, sebentar. Kenalin dulu,
nama aku Yupi. Nama kamu siapa?”ucap Yupi dengan diiringi senyum hangat serta
uluran tangannya.
Gadis itu pun kini menoleh ke
arah Yupi dan menjabat tangan Yupi dengan pelan. Namun wajahnya datar, ia sama
sekali tidak tersenyum. Dan bereaksi apapun.
“Nama aku Sinka.”ucap gadis
itu singkat lalu melepas jabatan tangan dan kembali memerhatikan papan tulis
yang kini mulai diisi oleh deretan rumus-rumus.
Bu
Shania pun menyuruh siswa-siswanya untuk mencatat setiap rumus yang ia tuliskan
di papan tulis. Sementara siswa-siswanya sibuk mencatat.
“Vanka.
Dimana denah kelasnya? Kok ibu cari dimeja gak ada”ucap Bu Shania sembari sibuk
mencari denah kelas.
“Nngg..
soal denah ya, Bu. Kalo itu saya belum buat”
“Ya
ampun.. Vanka-__- udah hampir sebulan ibu sudah kasi waktu tapi kamu belum buat
juga sampe sekarang! Kamu juga ketua kelasnya. Dimas! Kamu harusnya juga
bantuin Vanka buat denah”
“Tapi,
Bu. Saya mau mengundurkan diri aja jadi ketua kelas. Saya males, Bu. Saya juga merasa gak pantes jadi ketua kelas.”
“Oh jadi
begitu. Oh ya diantara kalian semua, ada gak yang berminat untuk jadi
sekretaris?”tanya Bu Shania pada seluruh siswa dikelasnya mengajar, tapi tak ada
satu pun yang mengangkat tangan dan berminat untuk menjadi sekretaris.
Bu
Shania menghela nafas.
“Baik.
Kalo begitu Dimas Praseno sekarang kamu resmi tidak menjadi ketua kelas. Dan
posisi kamu akan digantikan oleh Ranz Kyle. Dan untuk kamu Vanka! Kamu sekarang
juga sudah tidak menjadi sekretaris lagi. Dan posisi kamu akan digantikan
oleh…”ucap Bu Shania sambil memainkan telunjuknya dan berpikir.
Entah
siapa yang bisa ia tunjuk untuk menjadi sekretaris. Kalau untuk ketua kelas
sudah digantikan oleh wakil ketua kelas yang lebih bertanggung jawab dibanding
ketua kelas yang sekarang sudah mengundurkan diri.
Bu
Shania sudah geram dengan sikap Vanka yang kurang bertanggung jawab jika diberi
tugas. Padahal awalnya ia berpikir, Vanka yang memiliki wajah yang polos dan
imut itu sudah pasti dapat diandalkan namun ternyata semua itu salah.
Penilaian
dari luar tak sama seperti apa yang ada didalam. Dibalik wajah Vanka yang
sadface dan polos itu ternyata dia orang yang kurang bertanggung jawab. Maka
dari itu Bu Shania memecatnya menjadi sekretaris. Dan sekarang akhirnya dia
mendapat ide. Dia sudah tau siapa yang akan menjadi sekretaris.
“Oleh
kamu Yupi.”
“Hah?!
Saya, Bu?”ucap Yupi sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya,
kamu Yupi! Cindy Yuvia!”
Yupi pun
seketika dibuat kaget. Diantara banyak siswa yang ada disini. Kenapa Bu Shania
malah memilih dirinya. Padahal ia masih siswa baru dikelasnya. Yupi merasa
belum pantas menjadi sekretaris, walaupun ia sama sekali tidak tau apa itu
sekretaris. Tapi ia berpikir seharusnya siswa yang lebih awal dikelas ini yang
dipilih, bukan dirinya. Dan akhirnya Yupi hanya pasrah menerima jabatannya
menjadi sekretaris baru dikelas Bu Shania.
“Oh ya.
Istirahat kedua nanti kalian ke ruangan ibu ya, Ranz..Yup..”
Ranz dan
Yupi pun mengiyakan pernyataan Bu Shania tadi. Mereka sama-sama tak banyak
berkomentar dan memilih untuk diam dan menerima.
Disisi
lain Vanka merasa kesal. Disaat ia senang karena sudah tidak harus mengisi
absensi dan menulis jurnal yang menyita waktu itu dia juga merasa kesal karena
yang menjadi ketua kelas saat ini adalah Ranz Kyle.
Orang yang menjadi pacar
idaman Vanka.Kalau dia masih jadi sekretaris, dia akan slalu dekat dengan
Ranz. Tapi apa daya, Bu Shania sudah terlanjur memecatnya sebagai sekretaris
kelas.
Bersambung...
Buat yang belum baca part sebelumnya :
My Beloved Strange Angel Part 1: Suprising Encounter!
My Beloved Strange Angel Part 2: Welcome to My Life
My Beloved Strange Angel Part 3: High School? Is that difficult?
My Beloved Strange Angel Part 4: Bullying Mode On!
My Beloved Strange Angel Part 5: Profitable Incident
My Beloved Strange Angel Part 6: Will Close
My Beloved Strange Angel Part 7: Away and Closer
My Beloved Strange Angel Part 8: Ruthless
My Beloved Strange Angel Part 9: Before and After
Disisi lain Vanka merasa kesal. Disaat ia senang karena
sudah tidak harus mengisi absensi dan menulis jurnal yang menyita waktu itu dia
juga merasa kesal karena yang menjadi ketua kelas saat ini adalah Ranz Kyle.
Orang yang menjadi pacar
idaman Vanka.Kalau dia masih jadi sekretaris kan dia akan slalu dekat dengan
Ranz. Tapi apa daya, Bu Shania sudah terlanjur memecatnya sebagai sekretaris
kelas.
***
Bel istirahat pun berbunyi.
Saat ini Yupi sudah berada di kantin bersama Viny, Noella, Naomi, Lidya dan
Rona.
“Eh, Yup. Gue kira lo
ngilang gara-gara kaga ada dikelas”ucap Rona mengawali pembicaraan.
“Iyanih, gue juga. Mana tadi
ada kuis yang susah nya minta ampun lagi. Ampe ngebul pala gue ngerjain tu kuis.
Coba aja ada lo, Yup. Pasti pala gue gak perlu ngebul”
“Lebay lu, Lid”
“Ape lo bilang?! Lebay?? Wah
gue ketekin juga lo!”ucap Lidya yang geram lalu Rona pun kabur dan dikejar oleh
Lidya.
Viny, Noella, dan Naomi pun
hanya bisa menggelengkan kepala dan melanjutkan makan.
“Oh ya, Yup. Gimana keadaan
kamu dikelas yang baru itu? Ada yang ngebully kamu gak?”tanya Noella
disela-sela istirahat makan siang.
“Oh itu. Ya.. gak ada sih
kak wel. Tapi aku tadi diketawain dikelas sama temen-temen. Apa mungkin aku
lucu ya? Jadi mereka ketawa. Padahal aku cuma baru nyebutin nama doang.
Kayaknya aku punya bakat ngelawak deh. Gimana kalo aku ikut audisi di TV itu?
Wah pasti seru =D”
Serentak Viny, Noella, dan
Naomi pun tersedak mendenger ucapan Yupi tadi.
“Ya ampun, Yup. Mereka itu
cuma ngetawain nama kamu, soalnya nama kamu sama kayak nama permen-_- Trus
ngapain lagi ngikut-ngikut audisi gak penting kayak gitu. Kamu gak boleh ikut,
Yup.”ucap Viny pada Yupi.
“Oke kak Viny :D”
“Jaga diri kamu baik-baik
ya, Yup”
“Sip kak wel!”ucap Yupi
sembari memberi hormat pada Noella.
“Oh ya. Kalo ada yang
ngebully kamu. Bilang aja sama aku, Yup.”
“Siap kak Omi!”
“Kalo dari aku. Hmm.. Jangan
tinggalin aku ya, Yup.”
Yupi pun kaget mendengar ucapan Viny dan ucapan itu kembali membuatnya teringat pada Eonninya yang sedang mencari cara agar dia bisa kembali
menjadi malaikat. Jika Eonninya bisa menemukan cara agar dia bisa kembali
menjadi malaikat maka sudah pasti dia akan meninggalkan Viny.
“Aku gak bisa. Disetiap
pertemuan pasti ada perpisahan, Kak. Kak Viny gak perlu takut aku
tinggalin, aku pasti bakal selalu ada deket ka Viny, walaupun nanti kak Viny
gak bisa ngeliat aku.”
“Kamu kok ngomongnya jadi
serius banget kayak gini, Yup. Tumben banget. Aku ngerasa…”ucap Viny namun
terpotong karena Yupi pergi ke toilet.
“Yah malah ke toilet. Hmm..
Walaupun aku gak bisa liat dia nanti? Maksudnya apa ya?”batin Viny.
Bersambung...
Buat yang belum baca part sebelumnya :
My Beloved Strange Angel Part 1: Suprising Encounter!
My Beloved Strange Angel Part 2: Welcome to My Life
My Beloved Strange Angel Part 3: High School? Is that difficult?
My Beloved Strange Angel Part 4: Bullying Mode On!
My Beloved Strange Angel Part 5: Profitable Incident
My Beloved Strange Angel Part 6: Will Close
My Beloved Strange Angel Part 7: Away and Closer
My Beloved Strange Angel Part 8: Ruthless
My Beloved Strange Angel Part 9: Before and After





Komentar
Posting Komentar