Belenggu Introvert dan Pemalu yang Berkolaborasi Menjadi Satu


Hari ini 11 Maret 2019, menjadi hari yang cukup membuatku tegang. Tetangga satu banjarku (RT/RW) menikah dan aku harus menghadiri acara pemuda yang diadakan di pernikahan itu. Masalahnya adalah tidak ada teman dekatku (cewek) yang menghadiri itu. Dek Lia, teman sebanjar seangkatanku udah balik ke kos nya soalnya dia udah mau ngampus, trus aku sama siapa dong ke sana T.T Rasanya aku bingung dan gak tau harus ke sana sama siapa. Malu sekali rasanya ke sana sendiri. Mana gak tau persis lagi rumahnya. Aduduh complicated banget deh.

Bukannya aku manja, gak mau pergi sendiri. Justru aku termasuk jajaran siswa yang kalo ke toilet itu gak ditemenin sama temen. Ya gas aja pergi sendiri. Tetapi berbeda dengan konteks itu, pergi ke acara sendiri menjadi hal yang membuat pergulatan antara hati dan pikiranku.

Rasanya perasaan pemaluku yang begitu melekat berkolaborasi dengan rasa introvertku dan membuat belenggu ketakutan dalam hatiku. Sungguh rasanya tidak mengenakan merasakan hal seperti ini. Sejenak ingin kuceritakan pada temanku tentang hal ini, namun entah kenapa aku begitu meragu ingin menceritakan hal ini pada siapa. Aku bahkan sampai bingung menscroll timeline teman line yang ingin aku chat untuk menceritakan hal ini.

Aku berpikir apakah aku seorang ANSOS (Anti Sosial) ? Dari kecil hingga 19 tahun umurku, masa aku tidak akrab dengan pemuda ataupun pemudi di lingkungan banjarku? Apa aja sih yang sudah aku lakukan sehingga jadi seperti ini? Hmm.. sebuah pertanyaan yang diriku sendiri bingung untuk menjawabnya.

Kalau ditelaah lebih lanjut, aku di lingkungan pendidikan dengan aku di lingkungan rumah cukup berbeda. Aku cenderung lebih pemalu dan tidak banyak berbicara. Aku merasa tidak begitu akrab meski kita satu lingkungan banjar, jadi itu membuatku bingung harus membicarakan obrolan apa yang sekiranya pantas untuk dibicarakan. Tenggorokanku terasa tercekat tak mampu mengungkapkan sebuah kata. Setiap ada kegiatan yang mengharuskanku pergi ke banjar rasanya langkahku begitu berat, bukan karena aku tak ingin atau malas. Namun lebih kepada rasa takutku untuk berinteraksi dengan orang yang tidak terlalu akrab denganku, perasaan itu seperti memberatkan setiap langkahku untuk menuju banjar dan bertemu dengan pemuda pemudi di sana.

Berbeda dengan itu, di lingkungan pendidikan seperti sekolah dan kampus, aku cenderung lebih bisa untuk berinteraksi dengan teman-temanku tanpa sekat rasa canggung. Aku tidak tahu alasan apa yang sekiranya mendasari hal ini, mungkin karena setiap hari aku bertemu dengan teman-temanku dan tak hanya itu, di sekolah, kita dihadapkan dengan situasi harus selalu bersama di dalam kelas jadi rasanya seperti waktu menghancurkan tembok rasa takut, canggung dan malu. Waktu pula yang menyatukan kita menjalin sebuah hubungan keakraban.

Walau bisa dibilang, pemuda pemudi di lingkungan banjar lebih bersama denganku lebih lama ketimbang teman-teman di sekolah atau kampus. Ya kan teman-teman di sekolah dan kampus disesuaikan waktu bersama kita selama beberapa tahun. Entah itu 6 tahun, 3 tahun ataupun 4 tahun. Tapi tetap saja itu tidak mampu untuk mematahkan pandanganku mengenai lebih akrabnya diriku dengan teman-teman sekolah dan sekampusku ketimbang di daerah banjarku.

Aku tak menampik juga jika sebenarnya di sekolah aku sesaat menjadi orang yang cukup pendiam dan hanya asik mendengarkan lagu lewat earphone kesayanganku. Semakin aku pikirkan aku sepertinya aku sangat introvert dan pemalu, mana terkadang rasanya tanganku ingin bergetar namun dapat kuatasi dengan memegangnya erat dan memotivasi diri sendiri jika semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu untuk dikhawatirkan. 

Kadang disaat teman-temanku, katakanlah saja teman segenk ku, membicarakan sesuatu bahkan sampai mereka tertawa terbahak-bahak, aku malah bisa diam saja tanpa ekspresi padahal aku ikut juga bersama mereka disana. Mereka sering mengatakan jika selera humorku pasti terlalu tinggi sehingga aku tidak tertawa sama sekali. Kadang aku usahakan sedikit tertawa kok. Tapi gimana ya sepertinya konsentrasi juga sudah teralihkan jadi ya humornya kurang ngena.

Tapi ya susah juga sebenarnya, bisa dibilang aku orang yang flat, tidak terlalu banyak ekspresi. Aku jadi seperti orang yang susah mengekspresikan apa yang aku rasakan sebenarnya, tapi jika harus menyembunyikan apa yang sebenarnya aku rasakan pastilah itu hal yang mudah.

Aku sendiri tidak tahu seberapa selera humorku. Tapi hal yang pasti aku yakini bisa membuatku tertawa dan senyum sumringah tentunya jika menyangkut idola. Jadi sejujurnya benih tawa dan senyumku itu mudah, cukup perlihatkan saja idolaku, maka aku akan dengan senang hati tersenyum dan tertawa melihat tingkahnya. Aku tidak mengerti mengapa tapi mungkin itu idol impact.

How your idol’s impact your life?

Sebagai salah satu mediator terbaik sedikit untuk merubah diri, mengidolakan seseorang bisa jadi hal yang baik sekaligus menyenangkan. Sebut saja idolaku zining, dia bersama rocket girls ada dalam sebuah variety + reality show dimana ia harus menakhlukan gurun sahara. Di sana ada adegan dimana ia berinteraksi dengan bule (orang Tunisia) memakai bahasa Inggris, setelah aku menonton itu, aku sadar yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk berbicara dengan bule itu walau bahasa Inggris kita tidak seberapa. Ada adegan dimana, salah satu member yang kehilangan arah dan bertanya pada bule itu apakah ia melihat orang yang sama dengannya tapi dengan bahasa “do you look ...dilanjutkan dengan bahasa mandarin plus bahasa tubuh”:v

Bule (orang Tunisia) itu tentunya sangat bingung namun perlahan ia mengerti apa yang dimaksudkan lalu segera menunjukkan jalannya. Kemudian setelah aku menonton itu tibalah saat dimana aku dihadapkan pada situasi di mana aku harus berinteraksi dengan bule yang datang ke warungku. Aku teringat dengan idolaku yang berani itu, dan aku berbicara dengan bule itu. Walau ada sedikit kata yang aku bingung mengucapkannya dengan bahasa Inggris, selebihnya aku bisa dengan baik menjawab setiap pertanyaan dari bule itu. Selepasnya ia pergi, aku merasa puas bisa berbicara bahasa Inggris secara langsung seperti itu tanpa belenggu rasa takut, soalnya sebelumnya aku cenderung ingin menghindarinya saja walau sebenarnya aku cukup bisa berbahasa Inggris.

Impactnya memang lumayan yeah, tapi tetap saja aku tetap merasa dihantui rasa takut seperti ini, hanya sebagian kecil dari rasa keberanianku yang muncul otomatis. Terkadang setelah satu masalah dapat aku selesaikan malah muncul permasalahan lainnya yang menyangkut perlawanan melawan mentalku sendiri. Yeah disaat orang sibuk melawan musuh (kompetitor lain), aku masih saja sibuk melawan diriku sendiri. So deep, but it’s fact.

Cara satu-satunya yang bisa aku pakai hanya dengan berpasrah pada Tuhan saja, aku teringat dimana ada pernyataan yang mengatakan jika Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang tidak mampu dihadapi oleh umatnya. Atas dasar itu, segala pergulatanku dengan hati dan pikiran, aku coba menyelesaikannya perlahan. Aku tak menampik juga jika terkadang memang perlu untuk menghindari sesuatu yang dirasa tidak sanggup untuk dihadapi, ya itu semua tergantung pada pilihan dari pribadinya itu sendiri. 

Aku harap semoga kedepannya rasa takut ini tidak berlangsung begitu lama dan menyiksa hati serta pikiranku. Kenapa aku hanya menginginkan hal itu? Ya karena mustahil rasanya untuk tidak merasa takut sepanjang tahun. Cukup dengan meminimalkan rasa takut yang dirasakan saja, aku anggap itu sudah cukup.

Sekiranya sekian saja curahanku tentang hari ini yang begitu menegangkan hati dan pikiran.
Salam bercanda!
Tapi serius deh kali ini :p

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Cerita Pendek (Cerpen) Bahasa Bali

My Beloved Strange Angel Part 10: My New Class

Contoh Bukti Kas Masuk, Kas Keluar, Memorial, Faktur, Memo Kredit dan Memo Debet dalam Akuntansi