Dialog Drama Anekdot Hukum Peradilan
Kali ini aku mau sharing tentang tugas dramaku. Nah drama ini kan ada di buku paket Bahasa Indonesia yang tinggal ngelengkapin dengan dialognya doang itu lho. Tapi karena pemainnya terbatas alias cuma 6 orang jadi ya ceritanya agak aku setting biar bisa 6 orang, jadi ya ada yang perannya double gitu deh, bahkan triple. Haha. Gapapa deh yang penting bisa maju dihari pertama dan dapet nilai A- aseg!
KELAS X IIS 1
Nama pemain dan perannya :
1. Ni Putu Ashya Paramitha Sari sebagai Nenek
Si Tukang Pedati dan Si Penjual Kayu
2. Ni Nyoman Ayu Seri Dewi
sebagai Narator dan Si Tukang Kayu
3. Ni Luh Indra
Suardani
sebagai Si Tukang Pedati dan Pembantu Tinggi
dan Gemuk
4. Ni Made Mita Widyastuti sebagai Pengawal
5. Ni Putu Paramitha Ardy Rahayu sebagai Yang
Mulia Hakim
6. Kadek Pingkan Amrita Gamaya sebagai Pohon,
Si Pembuat Jembatan dan Pembantu Pendek dan Kurus
Nah seperti itulah pembagian perannya masing-masing karena keterbatasan pemain. Sebenarnya drama ini diperankan 8 orang kalo dikelasku. Tapi dilihat dari pemainnya sih idealnya diperankan 10 orang.
Yosh langsung ajadeh, ini dia dialog dramanya.
Pada suatu hari
ada seorang tukang pedati dari Negeri Ginseng yang berkebangsaan Papua tinggal
disebuah gubuk tua ditengah hutan. Ia kini hanya tinggal bersama dengan
neneknya. Di siang hari ini, ia melewati jembatan yang baru dibangun dengan
membawa barang dagangannya menuju pasar kota dengan menggunakan kuda sebagai
alat transportasinya.
Si Tukang Pedati: “Aduh.. Gimana nih barang dagangan dan kudaku hanyut terbawa arus sungai. Mana belum dapetin uang sama sekali lagi, gimana.. lagi nanti buat bayar utang, belum lagi genteng bocor. Huft Sial!” (jatuh ke sungai lalu
berpegangan pada ranting pohon)
Si Tukang
Pedati itupun jatuh ke sungai dan beruntungnya dia selamat dari arus sungai
yang deras itu dengan berpegangan pada ranting pohon, namun sayangnya barang
dagangan serta kudanya hanyut terbawa arus sungai tersebut.
Setelah
kejadian yang malang tersebut, Si Tukang Pedati dan Neneknya tidak terima
karena mendapat kerugian dari jembatan yang rapuh itu, lalu mereka melaporkan
kejadian tersebut kepada hakim untuk mengadukan Si Pembuat Jembatan agar
dihukum dan memberi uang ganti rugi.
Nenek Si Tukang Pedati: “Yang Mulia Hakim, saya tidak
terima cucu saya merugi akibat barang dagangan serta kudanya hanyut terbawa
arus sungai karena jembatan yang dilaluinya roboh. Jadi saya mohon agar Si
Pembuat Jembatan itu dihukum!”
Yang Mulia Hakim: “Baiklah besok aku akan mengadakan
sidang dan memanggil Si Pembuat Jembatan.”
Setelah
permohonan Nenek Si Tukang Pedati dikabulkan. Keesokan harinya sidang digelar,
dan Si Pembuat Jembatan pun sudah hadir namun Nenek Si Tukang Pedati tidak bisa
menghadiri persidangan dikarenakan kesehatannya yang mulai memburuk dan Si
Tukang Pedati pun juga tidak bisa hadir karena merawat neneknya tersebut
walaupun begitu, sidang tetap digelar.
Si Pembuat Jembatan: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan
saya sehingga dipanggil kesini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu adalah membuat jembatan tidak
dengan kayu yang bagus sehingga membuat seorang Tukang Pedati celaka dan
mendapat banyak kerugian.”
Si Pembuat Jembatan: “Kalau begitu jangan salahkan saya
dong, salahkan saja Si Tukang Kayu yang menyediakan kayu untuk saya.”
Yang Mulia Hakim: “Baik, kalau begitu. Pengawal! Cepat
panggil Si Tukang Kayu dan bawa dia ke hadapan saya.”
Pengawal: “Baik, Yang Mulia Hakim.” (Pergi keluar ruang
sidang dan segera membawa Si Tukang Kayu)
(Sesampainya Si Tukang Kayu bersama Pengawal di ruang
sidang)
Si Tukang Kayu: “Yang Mulia Hakim, Apa kesalahan saya
sehingga dipanggil ke persidangan ini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar. Kayu yang
kamu bawa untuk membuat jembatan itu ternyata jelek dan rapuh sehingga membuat
seorang Tukang Pedati jatuh dan kehilangan semua barang dagangannya serta
kudanya. Oleh karena itu kamu harus mengganti semua kerugian Si Tukang Pedati.”
Si Tukang Kayu: “Kalau begitu permasalahannya, ya jangan
salahkan saya, salahkan saja Si Penjual Kayu yang menjual kayu yang jelek dan
rapuh.”
Yang Mulia Hakim: “Benar juga yang dikatakan Si Tukang
Kayu ini, kalau begitu. Pengawal! Cepat bawa Si Penjual Kayu kesini untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya!”
Pengawal: “Baik, Yang Mulia Hakim.” (Pergi keluar ruang
sidang dan segera membawa Si Penjual Kayu)
(Si Penjual Kayu sampai di ruang sidang bersama Pengawal)
Si Penjual Kayu: “Yang Mulia Hakim, apa kesalahan saya
sehingga dibawa ke sini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar karena tidak
menjual kayu yang berkualitas bagus kepada Si Tukang Kayu sehingga jembatan
yang dibuatnya roboh dan membuat seorang Tukang Pedati kehilangan kuda dan
dagangannya.”
Si Penjual Kayu: “Kalau begitu, jangan menyalahkan saya.
Yang salah itu adalah pembantu saya. Dialah yang menyediakan kayu untuk Si
Tukang Kayu.
Yang Mulia Hakim: “Benar juga apa yang dikatakan Si
Penjual Kayu. Kalau begitu, Pengawal! Cepat bawa Si Pembantu ke hadapanku!”
Pengawal: “Baik, Yang Mulia Hakim.” (Pergi keluar ruang
sidang dan segera membawa Si Pembantu)
Pembantu Tinggi dan Gemuk: “Yang Mulia Hakim, apa
kesalahan saya sehingga dibawa ke sini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu sangat besar karena tidak
menyediakan kayu yang berkualitas bagus kepada majikanmu dan membuat seorang
Tukang pedati kehilangan barang dagangannya serta kudanya.”
(Namun karena Si Pembantu tidak secerdas tiga orang yang
dipanggil dan dibawa terlebih dahulu sehingga dia tidak bisa memberikan alasan
yang masuk akal kepada Yang Mulia Hakim)
Yang Mulia Hakim: “Hai Pengawal, cepat masukkan Si
Pembantu dan sita semua uangnya sekarang juga!”
Pengawal: “Baik, Yang Mulia Hakim.”
(beberapa menit kemudian Si Pengawal kembali ke ruang
sidang)
Yang Mulia Hakim: “Hai Pengawal, Apakah hukuman sudah
dilaksanakan?”
Pengawal: “Belum, Yang Mulia. Sulit sekali untuk
melaksanakannya.”
Yang Mulia Hakim: “Mengapa sulit? Bukankah kamu sudah
terbiasa memenjarakan dan menyita uang orang?”
Pengawal: “Itu memang benar, Yang Mulia. Tapi.. Si
Pembantu badannya terlalu tinggi dan gemuk sehingga penjara yang kita punya
tidak muat dan Si Pembantu juga tidak punya uang untuk disita.”
Yang Mulia Hakim: “Kamu gimana sih! Gunain dong akalmu,
cari pembantu yang lebih pendek, kurus, dan punya uang!”
Pengawal: “Oh jadi begitu ya, Yang Mulia Hakim. Baik akan
saya cari.”
(sesaat kemudian pengawal membawa Pembantu yang kurus dan
pendek)
Pembantu Pendek dan Kurus: “Yang Mulia Hakim, apa
kesalahan saya sehingga dibawa ke sini?”
Yang Mulia Hakim: “Kesalahanmu adalah pendek, kurus, dan
punya uang!!”
Pengawal: “Sudah jangan banyak omong, serahkan semua
uangmu!”
Pembantu Pendek dan Kurus: “Nih! Ambil!”(Mengambil uang lalu melempar
uangnya ke hadapan pengawal)
(Setelah Si Pembantu Kurus dan Pendek di penjara dan
uangnya disita.)
Yang Mulia Hakim: “Saudara-saudara semua, menurut kalian,
apakah peradilan ini sudah adil?”
Masyarakat: “Adil…!!!”
Tamat
Nah seperti itulah dialog dramanya. Nah property yang digunain itu
bagusnya sih, Palu buat si Hakim entah itu palu beneran atau palu mainan kayak
kelompokku xD terus baju toga buat si Hakim, ya pokoknya baju kayak pas hakim
dipersidangan deh. Terus tukang pedati bawa kursi aja, terus kursinya didorong
ntar dijatuhin deh. Ya kembangkanlah ide kreatif dalam drama ini ya.
Komentar
Posting Komentar