Cerpen!
Jadi ada siswa pindahan namanya Fitrilya. Dia pindah disekolah khusus perempuan yang siswa-siswanya terkenal nakal jadi rata-rata siswa disana jago banget berantem dan membentuk genk-genk.
Karena rata-rata semua siswa disana sudah mempunyai genk masing-masing, Fitrilya selalu sendirian, sampai suatu saat dia bertemu Yuvia yang sedang termenung di taman sekolah.
Sejak mereka bertemu di taman sekolah, Fitrilya sudah menganggap Yuvia sahabatnya walau ternyata Yuvia sama sekali tidak menganggapnya sahabat. Fitrilya sebenarnya adalah seseorang yang sangat jago berkelahi karena bakatnya berkelahi itu membuat ia dikeluarkan dari sekolahnya terdahulu dan pindah ke sekolahnya yang sekarang.
Di sekolah itu, Yuvia berniat ingin mengganti pemimpin genk sekolah yaitu Shinta.
Shinta adalah pemimpin genk yang sangat ditakuti satu sekolah. Yuvia pun berkhianat pada Fitrilya dengan memanfaatkan kemampuan berkelahinya. Yuvia mengadu domba semua genk sekolah dengan kecerdasan pikiran dan kata-katanya.
Saat semua bisa dikalahkan oleh Fitrilya. Yuvia pun ingin menyingkirkan Fitrilya dengan bekerja sama dengan sekolah yang sering diajak tawuran. Ia menyusun strategi agar Fitrilya bisa dikeroyok oleh siswa sekolah seberang yang sering diajak tawuran itu.
Yuvia pun berpura-pura mengaku kalau dia akan dikeroyok siswa sekolah seberang. Mendengarkan ucapan dari Yuvia lewat telepon itu, Fitrilya segera berlari menyelamatkan sahabatnya itu.
Yuvia masih menunggu Fitrilya di sebuah gudang. Dengan kelicikannya, dia membuat siswa seberang marah dan memukulinya. Dan disaat Yuvia yang sudah babak belur dipukuli, datanglah Fitrilya.
Fitrilya langsung menuju Yuvia walau dihadang oleh banyak siswa seberang. Melihat hal itu hati Yuvia pun tersentuh melihat orang yang menganggapnya sahabat itu dipukuli. Dia pun berdiri dan ikut berkelahi bersama Fitrilya. Mereka berdua berhasil mengalahkan siswa-siswa disana.
Keesokan harinya, Fitrilya banyak mendengar pembicaraan jika Yuvia berkhianat padanya.
Di lapangan basket, ia melihat Yuvia yang duduk sendirian. Fitrilya pun menghampiri Yuvia.
"Apa kita ini bersahabat?"tanya Fitrilya yang duduk disamping Yuvia.
Yuvia pun hanya diam lalu dia berdiri dan hendak meninggalkan Fitrilya. Tapi tangannya ditahan oleh Fitrilya.
"Lepaskan!"bentak Yuvia pada Fitrilya.
Fitrilya lalu berdiri.
"Apa kita bersahabat?"tanya Fitrilya kembali dengan mata yang sendu dan berkaca-kaca.
"Sahabat, sahabat, dan sahabat! Aku lelah mendengar kata itu! Aku sama sekali tidak menganggapmu sahabat!"bentak Yuvia.
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan selalu menganggapmu sahabatku."
"Aku sudah berkhianat padamu berkali-kali dan kamu tetap seperti ini?! Menganggapku sahabat?!"bentak Yuvia kembali.
Yuvia pun geram pada perilaku Fitrilya.
"Akan ku tunjukkan apa yang dilakukan sahabatmu ini!!"ucap Yuvia lalu memukuli Fitrilya. Walau Fitrilya jago berkelahi, dia sama sekali tidak menggunakan keahliannya itu. Dia hanya menerima setiap pukulan Yuvia. Saat Yuvia akan memukulnya untuk yang terakhir. Fitrilya justru memukulnya hingga ia jatuh tersungkur.
Yuvia pun bangun, dan saat dia akan kembali berkelahi dengan Fitrilya.
Fitrilya justru memeluknya dan membuat Yuvia kaget. Pelukan Fitrilya sangat erat dan membuat Yuvia tidak bisa melepaskan pelukan itu.
Fitrilya menangis dipelukan Yuvia.
"Yuvia, jangan tinggalkan aku sendirian... aku membutuhkanmu..Jangan katakan jika kamu membenciku...tolong selalu ada disampingku.."lirih Fitrilya ditengah airmatanya yang menetes perlahan.
Mendengar ucapan Fitrilya, seketika lutut Yuvia melemas, dan dia terduduk dengan perlahan ditengah Fitrilya yang masih memeluknya.
Fitrilya pun memegang kedua pundak Yuvia. Dengan airmata yang sudah menetes satu per satu membasahi pipinya.
Yuvia pun mulai tersentuh, matanya berkaca-kaca. Ia tidak percaya, ada seseorang yang tetap menganggapnya sahabat walau ia sudah mengkhianatinya berkali-kali.
"Apapun yang terjadi, kamu akan selalu jadi sahabatku.."lirih Fitrilya kembali.
Mendengar kata-kata tersebut, Yuvia langsung memeluk Fitrilya dan menangis sejadi-jadinya.
Karena rata-rata semua siswa disana sudah mempunyai genk masing-masing, Fitrilya selalu sendirian, sampai suatu saat dia bertemu Yuvia yang sedang termenung di taman sekolah.
Sejak mereka bertemu di taman sekolah, Fitrilya sudah menganggap Yuvia sahabatnya walau ternyata Yuvia sama sekali tidak menganggapnya sahabat. Fitrilya sebenarnya adalah seseorang yang sangat jago berkelahi karena bakatnya berkelahi itu membuat ia dikeluarkan dari sekolahnya terdahulu dan pindah ke sekolahnya yang sekarang.
Di sekolah itu, Yuvia berniat ingin mengganti pemimpin genk sekolah yaitu Shinta.
Shinta adalah pemimpin genk yang sangat ditakuti satu sekolah. Yuvia pun berkhianat pada Fitrilya dengan memanfaatkan kemampuan berkelahinya. Yuvia mengadu domba semua genk sekolah dengan kecerdasan pikiran dan kata-katanya.
Saat semua bisa dikalahkan oleh Fitrilya. Yuvia pun ingin menyingkirkan Fitrilya dengan bekerja sama dengan sekolah yang sering diajak tawuran. Ia menyusun strategi agar Fitrilya bisa dikeroyok oleh siswa sekolah seberang yang sering diajak tawuran itu.
Yuvia pun berpura-pura mengaku kalau dia akan dikeroyok siswa sekolah seberang. Mendengarkan ucapan dari Yuvia lewat telepon itu, Fitrilya segera berlari menyelamatkan sahabatnya itu.
Yuvia masih menunggu Fitrilya di sebuah gudang. Dengan kelicikannya, dia membuat siswa seberang marah dan memukulinya. Dan disaat Yuvia yang sudah babak belur dipukuli, datanglah Fitrilya.
Fitrilya langsung menuju Yuvia walau dihadang oleh banyak siswa seberang. Melihat hal itu hati Yuvia pun tersentuh melihat orang yang menganggapnya sahabat itu dipukuli. Dia pun berdiri dan ikut berkelahi bersama Fitrilya. Mereka berdua berhasil mengalahkan siswa-siswa disana.
Keesokan harinya, Fitrilya banyak mendengar pembicaraan jika Yuvia berkhianat padanya.
Di lapangan basket, ia melihat Yuvia yang duduk sendirian. Fitrilya pun menghampiri Yuvia.
"Apa kita ini bersahabat?"tanya Fitrilya yang duduk disamping Yuvia.
Yuvia pun hanya diam lalu dia berdiri dan hendak meninggalkan Fitrilya. Tapi tangannya ditahan oleh Fitrilya.
"Lepaskan!"bentak Yuvia pada Fitrilya.
Fitrilya lalu berdiri.
"Apa kita bersahabat?"tanya Fitrilya kembali dengan mata yang sendu dan berkaca-kaca.
"Sahabat, sahabat, dan sahabat! Aku lelah mendengar kata itu! Aku sama sekali tidak menganggapmu sahabat!"bentak Yuvia.
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan selalu menganggapmu sahabatku."
"Aku sudah berkhianat padamu berkali-kali dan kamu tetap seperti ini?! Menganggapku sahabat?!"bentak Yuvia kembali.
Yuvia pun geram pada perilaku Fitrilya.
"Akan ku tunjukkan apa yang dilakukan sahabatmu ini!!"ucap Yuvia lalu memukuli Fitrilya. Walau Fitrilya jago berkelahi, dia sama sekali tidak menggunakan keahliannya itu. Dia hanya menerima setiap pukulan Yuvia. Saat Yuvia akan memukulnya untuk yang terakhir. Fitrilya justru memukulnya hingga ia jatuh tersungkur.
Yuvia pun bangun, dan saat dia akan kembali berkelahi dengan Fitrilya.
Fitrilya justru memeluknya dan membuat Yuvia kaget. Pelukan Fitrilya sangat erat dan membuat Yuvia tidak bisa melepaskan pelukan itu.
Fitrilya menangis dipelukan Yuvia.
"Yuvia, jangan tinggalkan aku sendirian... aku membutuhkanmu..Jangan katakan jika kamu membenciku...tolong selalu ada disampingku.."lirih Fitrilya ditengah airmatanya yang menetes perlahan.
Mendengar ucapan Fitrilya, seketika lutut Yuvia melemas, dan dia terduduk dengan perlahan ditengah Fitrilya yang masih memeluknya.
Fitrilya pun memegang kedua pundak Yuvia. Dengan airmata yang sudah menetes satu per satu membasahi pipinya.
Yuvia pun mulai tersentuh, matanya berkaca-kaca. Ia tidak percaya, ada seseorang yang tetap menganggapnya sahabat walau ia sudah mengkhianatinya berkali-kali.
"Apapun yang terjadi, kamu akan selalu jadi sahabatku.."lirih Fitrilya kembali.
Mendengar kata-kata tersebut, Yuvia langsung memeluk Fitrilya dan menangis sejadi-jadinya.
Komentar
Posting Komentar