How to be a Great Sister Part 3



Calista pun akhirnya keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju seragam sekolahnya dan parfum yang semerbak wangi. Ia pun mempersilahkan ketiga adiknya untuk masuk ke kamar mandinya.
          “Oh ya sebelum kalian masuk ke kamar mandiku. Ada syaratnya yaitu kamar mandinya harus sama kaya yang terakhir aku liat, ga boleh ada yang bergeser dari tempat sebelumnya, ga boleh buang sampah sembarangan juga ya. Udah itu aja deh”ucap Calista lalu segera berlalu dari hadapan adiknya.
          “Aku mandi duluan ya”ucap Siska lalu tangannya dengan cepat ditahan oleh Erika dan Gita
          “Ga bisa!! Aku duluan!!!”ucap Erika
          Dan mereka pun akhirnya bertengkar sampai-sampai terdengar ke telinga Calista yang sedang mengepang rambutnya.
          “Aduh.. kalian kok malah bertengkar sih! Gini deh, Erika kamu mandi duluan gih, disusul cempreng siska dan terakhir baru kamu ya Gita.. Ini rumah kali bukan hutan belantara jadi jangan teriak-teriak kaya gitu dan jangan berantem lagi udah ah kalian ganggu aku aja deh, aku mau lanjutin ngelilit rambut dulu ya”
          Akhirnya mereka pun menurut dan mengikuti semua perkataan Calista. Walau didalam batin mereka masih tersimpan kekesalan dan amarah tapi mereka tetap menahan diri satu sama lain.
                                                          ***
          Kira-kira hari ini tepat 2 bulan mereka menjadi sebuah keluarga dan duduk bersama dimeja makan walau Tasya sudah berangkat lebih awal daripada adik-adiknya, dan Gita juga Siska belum duduk dimeja makan karena masih mempersiapkan dirinya secantik mungkin untuk ke sekolah.
          Yang ditunggu pun akhirnya datang juga yaitu Gita dan Siska mereka secara bersamaan duduk dengan nafas yang masih terengah-engah sehabis mereka berlari menuruni tangga karena telat untuk makan bersama.
          “Duh kalian berdua ini, ga usah lari-lari juga kali. Emang meja makannya bakal lari apa?”ucap Erika sambil mengoleskan roti kedua dengan selai setelah roti pertama ia sudah habiskan.
          “Ye.. aku ga enak hati kali, Kak. Kalo ga makan sama-sama”ucap Siska dengan nafas yang masih terengah-engah.
          “Aku juga sama kaya Ka Siska”ucap Gita sembari mengatur nafasnya.
          “Udah deh, kalian mending atur nafasnya dulu, kalo udah tenang baru makan”ucap Calista datar.
          Gita dan Siska pun mengatur ritme nafasnya yang tak beraturan. Setelah itu saat mereka ingin mengambil roti, disana hanya tersisa satu roti, awalnya mereka saling menatap satu sama lain dan akhirnya mereka langsung mengambil roti itu dengan cepat, tangan mereka sama-sama berada diatas roti.
          “Kak, aku duluan lho ini yang megang roti”ucap Gita yang masih saja memegang roti tersebut.
          “Ih apaan! Adik itu harus ngalah sama kakaknya, jadi mending kamu ngalah aja deh, aku kan lahir duluan daripada kamu”bentak Siska pada Gita.
          Gita yang sangat sensitive pun langsung melepas tangannya dari roti tersebut, lalu berdiri dan pergi meninggalkan meja makan dan berlari ke kamarnya, dan membanting pintu kamarnya dengan keras sebagai tanda kekesalannya. Airmatanya pun seperti sudah membludak dipelupuk matanya lalu tumpah karena kelopak matanya sudah tak sanggup lagi menahannya.
          “Siska! Kamu ga seharusnya berperilaku seperti itu sama adik kamu”ucap papa terhadap Siska yang kini hanya diam membisu.
          “Nnngggg….. tapi pa.. ka Erika juga sering kaya gitu ke aku”ucap Siska canggung. Erika yang sedang asik memakan rotinya pun langsung kaget dan membuatnya tersedak.
          “Lho kok jadi nyangkut-nyangkutin ke aku!”ucap Erika sewot.
          “Sudah-sudah jangan bertengkar. Siska dimakan aja rotinya, terus Calista mama minta tolong ya samperin Gita ke kamarnya trus ntar pas diskolah beliin dia Roti buat sarapannya ya”
          “Iyaa, Maa”ucap Calista lalu segera menyusul Gita kekamarnya.

Udah segitu aja dulu, ntar dipost lagi :v

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Cerita Pendek (Cerpen) Bahasa Bali

My Beloved Strange Angel Part 10: My New Class

Contoh Bukti Kas Masuk, Kas Keluar, Memorial, Faktur, Memo Kredit dan Memo Debet dalam Akuntansi